![]() |
| Pelayat Mengunjungi Rumah Duka (Liputan6.com/Fathi Mahmud) |
Yupita menghembuskan napas terakhirnya setelah koma 5 hari di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Rabu hari ini. Pelayat memadati sepanjang jalan menuju Rumah Duka.
Rencananya jenazah suporter dari kelompok Paserbumi itu akan dimakamkan di pemakaman Gebang yang berjarak 2 KM dari rumah duka.
Di mata salah satu rekan Yupita, Arif Pambudi, almarhum sosok penyanyang. Arif mengenang Yupita sebagai figur yang sangat gigih membentuk persatuan suporter. "Dia orang yang luar biasa. Sosok yang penuh cinta kasih," kata Arif saat ditemui di Rumah Duka.
Arif bercerita, saat bentrokan kedua suporter pecah, Yupita berada di tengah kerumunan massa untuk melerai pihak yang bertikai. Namun, nahas Yupita justru mendapat pukulan dengan benda tumpul di Kepalanya. "Saya melihat posisi dia saat itu berada di tengah suporter untuk mencoba melerai agar tidak terjadi kerusuhan."
Sepengetahuan Arif, insiden bentrok kedua kubu suporter hingga jatuhnya korban jiwa baru pertama kali terjadi di Stadion Sultan Agung, Bantul. Arif menyatakan, sangat menyesalkan terjadinya peristiwa berdarah itu."Nyawa tidak bisa dibayar dengan apapun. Kejadian itu sangat disayangkan," kata Arif.
Yupita korban tewas bentrokan dua kelompok suporter Laskar Sultan Agung, Pasarbumi dan Curva Nord Famiglia. Akibat bentrokan itu, manajemen mengapungkan beberapa opsi untuk meredam konflik suporter. Salah satunya, mengancam membubarkan Persiba agar kedua kelompok suporter itu agar introspeksi diri.
Sementara itu, Kepolisian dari Resor Bantul, tidak akan memberikan izin pertandingan bagi Persiba bila kedua kelompok suporter tersebut tidak bersedia berdamai.[liputan6]
